| Gambar Ilustrasi |
Salam
Saya mau berkonsultasi, Pak
Langsung saja, saya
seorang ibu rumah tangga memiliki seorang anak laki-laki berusia 5 tahun. Anak
saya memiliki kebiasaan buruk dan saya rasa itu kurang sopan. Mungkin akan
berdampak buruk apabila terus menerus dia lakukan, anak saya gemar
sekali memainkan alat vitalnya dengan cara dipegang dan ditarik-tarik. Saya
sudah menegur bahkan sampai memarahinya apabila dia memainkan alat vitalnya
itu,akan tetapi dia tidak pernah menghiraukan dan terus memainkan alat vitalnya.
Jangan-jangan anak saya mengalami kelainan seksual atau memiliki perilaku yang
menyimpang, saya bingung apa yang saya harus lakukan agar kebiasaan buruk anak
saya ini hilang?
Terima kasih
sebelumnya
BC,Malang
Hallo Bunda BC di
Malang
Tenang, perilaku
anak Ibu tidak sampai pada tahap perilaku seksual yang menyimpang, kok.
Anda hanya perlu memikirikan bagaimana agar ia menjauhi kegiatan
memegang-megang dan menarik alat vitalnya tersebut. Sebenarnya, anak laki-laki
usia balita masih berada dalam fase oral di mana sensasi kenikmatan
hanya didapat di mulutnya. Fase falik atau kenikmatan yang didapat di
alat genital baru terjadi ketika anak mulai berusia 5-6 tahun. Jadi, jika hal
tersebut terjadi saat ini, hal ini disebabkan karena si kecil: 1) Merasakan
sensasi nikmat saat penisnya tersentuh; 2) Sedang mengeksplorasi
bagian-bagian tubuh, yang menurutnya sangat menarik; 3)
Terbiasa. Kemungkinan ada seseorang yang suka memainkan alat vitalnya,
sehingga ia jadi terbiasa merasakan kenyamanan kebiasaannya; 4) Rasa
Gatal, muncul di daerah penis, hingga ia berniat menghilangkannya.
Nah, untuk membuat
si kecil tidak lagi “bermain” alat vital/alat kelamin, saya akan berbagi tips
untuk Ibu:
1. Alihkan perhatiannya. Misalnya, mengajaknya bermain, membacakan buku cerita, mendongeng, atau sekedar memeluknya. Bila anak sudah menemukan tempat untuk bereksplorasi atau mendapatkan cukup perhatian, maka ia akan meninggalkan kebiasaan tersebut.
2. Kenali Tubuh. Selain dengan menunjukkan bagian-bagian tubuh, si kecil juga bisa Ibu ajarkan untuk mengenali tubuhnya melaluiu buku-buku yang bercerita tentang tubuh manusia, termasuk alat kelaminnya, saat mengenakan dan melepaskan pakaiannya, atau ritual membersikan alat kelamin dari kotoran, bisa saja membuat si kecil merasakan kenikmatan. Lalu, ia mencoba sendiri dengan tangannya untuk mendapatkan lagi sensasi nikmat itu.
3. Kenalkan Rasa Malu. Ungkapan, “Hayo sayang, alat vitalnya gak boleh dipegang-pegang,” pada anak dapat Ibu kuatkan dengan alasan rasa malu. Mengenalkan rasa malu pada anak lebih dini merupakan ajaran yang tepat. Lagipula, memegang alat kelamin di depan umum bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan, bukan? Coba katakan, “Kan sudah besar, Nak. Malu dong, kalau alat vitalnya dilihat orang.”
4. Jadi Detektif. Mengetahui siapa saja yang bermain bersama di kecil kadang tidaklah cukup. Ibu perlu mengecek apa saja yang mereka lakukan. Teman mainnya, termasuk babysitter, kakak ,atau saudara Ibu. Siapa tahu mereka tanpa sengaja memainkan alat kelamin si kecil. Atau malah si kecil berteman dengan orang yang memiliki kelainan suka memegang alat kelamin.
5. Gunakan Contoh. Manfaatkan peran Ayah dari si kecil untuk memberikan contoh bagimana memperlakukan alat kelaminnya. Kesamaan jenis kelamin antara si kecil dengan ayahnya semakin memperkuat modeling anak. Ketika anak melihat ayahnya tidak pernah memegang-megang alat kelaminnya di tempat umum, ia akan meniru.
Selain, hal-hal yang perlu Ibu lakukan. Kenali pula hal-hal yang sebagaiknya tidak Ibu lakukan, terkait dengan kesukaan si kecil memainkan alat vitalnya tersebut
1. Mempermalukan di depan orang lain. Kalimat seperti, “Lihat Kakak, ada anak jorok, nih. Dedek suka pegang-pegang penisnya,” bukannya membuat anak menerima pesan Anda, melainkan justru membuatnya malu.
2. Menepis tangannya dengan kasar. Lebih baik, pegang tangannya dengan lembut dan tatap matanya, lalu berikan alasan yang jelas mengapa Ibu tidak suka pada apa yang dilakukannya. Misalnya, katakan padanya, “Maaf Sayang, tangannya kan kotor. Nanti alat vital kamu jadi gatal,lho,”
3. Memarahi dengan emosi tinggi. Hal ini justru menutup jalur komunikasi antara Ibu dan dia. Kemungkinan, ia justru akan melakukan dengan sembunyi-sembunyi, seperti pada saat mau tidur atau mandi sendiri.
Demikian penjalasannya. Semoga dapat bermanfaat untuk Ibu.
Salam